Anda sedang berada di: Beranda » Materi Manasik » Dasar Dibolehkannya Miqot di Bandara King Abdul Aziz - Jeddah
Senin, 12 April 2010 - 10:46:49 WIB
Dasar Dibolehkannya Miqot di Bandara King Abdul Aziz - Jeddah
Diposting oleh : Pembimbing
Kategori: Materi Manasik - Dibaca: 11705 kali

Jamaah haji gelombang II akan diterbangkan ke Makkah turun di Bandara King Abdul Aziz - Jeddah. Dalam hal ini jamaah haji akan dihadapkan oleh dua pilihan untuk miqot haji atau umrahnya yaitu Miqot di atas pesawat saat melintasi Yalamlam atau Miqot di Bandara King Abdul Aziz. Nah.., disini akan muncul perdebatan manakah yang sah diantara kedua Miqot Makani tersebut.

Bagi kami masalah ini bukanlah soal sah atau tidak sahnya, tetapi akan lebih bermanfaat jika kita mengetahui dasar pengambilan miqot dari salah satu Miqot Makani tersebut. Jadi bukan saling menyalahkan bahwa Miqot di atas pesawat lebih sah dibandingkan Miqot di Bandara King Abdul Aziz atau sebaliknya Miqot di Bandara King Abdul Aziz lebih sah dibandingkan Miqot di atas pesawat?Perdebatan sah atau tidak sah ini akan menimbulkan kebingungan bagi calon jamaah haji. Calon jamaah haji adalah orang yang awam dan sangat minim sekali dalam memahami persoalan ini. Mereka membutuhkan penjelasan bukan melibatkan mereka dalam perdebatan ini.

Menyikapi masalah ini, kami ingin menyampaikan dasar dibolehkannya pengambilan Miqot di Bandara King Abdul Aziz - Jeddah sebab Miqot di Bandara King Abdul Aziz ini sering diperdebatkan keabsahannya. Berikut ini beberapa dasar dibolehkannya pengambilan Miqot di Bandara King Abdul Aziz:

  1. Keputusan Fatwa MUI Tahun 1980 dikukuhkan lagi Tahun 1981 
  2. Fatwa Ibnu Hajar Al Haitami Mazhab Hanafi dan Maliki : jamaah haji yang melewati dua miqot dapat memulai ihramnya dari miqat kedua. 
  3. Masalah miqat termasuk ijtihadi sebagaimana Umar Bin Khottab menetapkan Zatu Irqin sebagai miqot bagi jamah haji dari arah Iraq. 
  4. Nuruddin Atar meletakkan Jeddah dalam garis miqot yang sudah ditegaskan para Fuqaha. 
  5. Fatwa Mahkamah Syariah Negara Qatar.  Imam Ishak dalam Kitab Muhazzab dan syarahnya oleh Imam Nawawy menjelaskan bolehnya mengambil miqat dari mana saja asal mencukupi 2 marhalah dari Makkah. 1 marhalah = 45 km sedangkan jarak Jedah - Makkah 95 km. (Syarah Muhazzab juz 8 hal.220).
  6. Keselamatan jamaah untuk menghindari masyaqah.
 
Ketika kami browsing masalah Miqot di King Abdul Aziz ini , kami menemukan bahasan Khusus dari Majelis Tarjih Muhammadiyah: berikut kami tampilkan penjelasannya:
 
Pertanyaan Dari: Drs. Zen Amiruddin, M.Si., Ketua Majlis Tarjih PDM Kota Blitar
(disidangkan pada Jum’at, 12 Rabiul Akhir 1429 H / 18 April 2008 M)
 
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami sampaikan untuk pengasuh Tanya Jawab Agama, yakni kami ingin penjelasan seputar miqat makani ibadah haji. Di kalangan orang Muhammadiyun masih simpang siur tentang miqat makani bagi jamaah haji Indonesia gelombang II, yaitu di King Abdul Aziz ataukah di Qarnul Manazil, karena tidak mungkin melewati Yalamlam lagi.
 
Memperhatikan:
1. Buku Tuntunan Manasik Haji yang diedarkan oleh Majelis Tarjih ternyata Bandara King Abdul Aziz bisa menjadi miqat makani jamaah haji Indonesia gelombang II.
 
2. Para Ulama Muhammadiyah banyak yang menfatwakan mereka supaya mengambil miqat di pesawat terbang pada posisi Qarnul Manazil (atau sebelumnya) padahal di Suara Muhammadiyah pernah ada terbitan menguraikan secara geografis bahwa pesawat tersebut lewat tidak tepat di atasnya.
 
3. Hadis Nabi saw dari Aisyah riwayat al-Bukhari tentang miqat Tan’im. Maka timbul masalah: Pertama, kalau miqat di Qarnul Manazil itu dipakai, tentunya berdasarkan ilmu kira-kira, bahkan dikira-kira sebelum sampai di tempat perkiraan itu, padahal Rasulullah saw shalat dua rakaat di tanah miqat. Apakah ada contoh dari Rasulullah saw beramal seperti itu, terutama berihlal dan shalat dua rakaat sebelum sampai di miqat, baik qauliyah, fi’liyah maupun taqririyah? Kalau ada berarti sunnah, tetapi kalau tidak ada tentunya bid’ah, sebab الأصل فى العبادة التوقيف والاتباع .
 
Paling ringan pendapat ulama fiqh bahwa mengambil miqat sebelumnya adalah makruh.
 
Kedua, hadits riwayat Aisyah secara lafziyah jelas dia sudah masuk kota Makkah tetapi belum umrah, maka seandainya Bandara King Abdul Aziz itu dianggap sebagai tanah yang sudah masuk miqat atau miqat yang tidak jelas, mengapa tidak hadis riwayat Aisyah ini yang dijadikan tuntunan? Kalau hadis ini ada illatnya, apakah illatnya itu jelas atau samar?
 
Ketiga, dari tiga latar belakang tersebut, ditinjau dari thariqatul-tarjih apakah tidak lebih bagus mengamalkan hadis riwayat Aisyah tersebut? Demikian mohon tanggapan semoga jamaah Muhammadiyun dan simpatisannya selamat seperti harapan kita bersama.
 
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
 
Jawaban:
Pertanyaan yang saudara ajukan sebenarnya telah di bahas pada Tuntunan Manasik Haji oleh Tim Majlis Tarjih PP. Muhammadiyah, Fatwa Agama Suara Muhammadiyah Edisi Januari 2002, Tanya Jawab Agama 5, dan Fatwa Agama Majalah Suara Muhammadiyah No. 21 tahun ke-92/2007.
Untuk itu sebagian akan kami kutip kembali, tentunya dengan beberapa penambahan seperlunya.
 
1. Apakah Bandara King Abdul Aziz bisa dijadikan miqat makani bagi jamaah haji Indonesia gelombang II?
Rasulullah saw telah menetapkan adanya 4 (empat) miqat dalam haji, yaitu Zul-Hulaifah (Bir Ali), al-Juhfah, Qarnul-Manazil dan Yalamlam. Ada juga yang menambahkan dengan Zatu Irqin sebagai miqat berdasarkan hadis yang ditakhrij oleh Muslim dan hadis yang ditakhrijkan oleh Ibnu Majah. Akan tetapi dari segi kritik matan hadis, hadis riwayat Muslim ini patut dipertanyakan karena penetapan Nabi saw terhadap Zatu Irqin sebagai miqat penduduk Irak sangatlah janggal mengingat bahwa pada waktu itu orang-orang Irak belum masuk Islam. Perawinya juga ragu apakah hadis ini marfu’ atau tidak, hal ini bisa dilihat dari peryataan perawi sendiri yang mengatakan ‘ahsibu’ (saya mengira), jadi tidak ada kepastian bahwa itu merupakan pernyataan Nabi saw atau salah seorang sahabat.
 
Irak ditundukkan pada masa Umar bin Khatab dan Umar-lah yang menjadikan Zatu Irqin sebagai miqat penduduk Irak (Tanya Jawab Agama 5: 113) berdasarkan hadis Nabi saw dari Ibnu Umar riwayat al-Bukhari sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا فُتِحَ هَذَانِ اْلمِصْرَانِ أَتَوْا عُمَرَ فَقَالُوْا: يَا أَمِيْرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّ لِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْناً وَهُوَ جَوْرٌ عَنْ طَرِيْقِنَا، وَإِنَّا إِنْ أَرَدْنَا قَرْناً شَقَّ عَلَيْنَا. قَالَ: فَانْظُرُوا حَذْوَهَا مِنْ طَرِيْقِكم. فَحَدَّ لَهُمْ ذَاتَ عِرْقٍ. (رواه البخاري
 
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Ketika dua kota ini (Basrah dan Kufah) ditaklukkan orang-orang menghadap Umar lalu mengatakan: Wahai Amirul-Mukminin, sesungguhnya Rasulullah saw telah menentukan Qarnul-Manazil (sebagai miqat) bagi penduduk Najd, tetapi tempat itu menyimpang dari jalan yang kami lalui. Kalau kami harus menuju Qarnul-Manazil maka kami merasa sukar. Lalu Umar berkata: Coba lihatlah arah yang setentang dengan Qarnul-Manazil pada jalan yang kamu lalui. Lalu kemudian Umar menentukan Zatu Irqin (sebagai miqat) bagi mereka.” [HR. al-Bukhari].
 
Adapun hadis riwayat Ibnu Majah adalah dhaif dari sisi sanadnya karena terdapat perawi yang bernama Ibrahim Ibnu Yazid. Ibrahim dinyatakan sebagai perawi yang tidak handal dan munkar hadisnya, dan para ulama menulisnya dhaif. Miqat merupakan tempat yang dilalui para hujjaj dan menjadi tempat pemberhentian (stasiun) melalui mana para hujjaj lewat. Tempat ini pun diharuskan memberi kemudahan sesuai prinsip syar’i yaitu at-taisir dan ’adam al-haraj.
 
Pada masa sekarang memang banyak jamaah haji tidak lagi melalui miqat yang telah disebutkan dalam hadis Nabi saw, karena mereka tidak lagi naik kapal dan kendaraan darat terutama jamaah haji Indonesia, melainkan naik pesawat terbang dan langsung menuju Bandara King Abdul Aziz khususnya bagi jamaah haji gelombang II. Tentunya ini membutuhkan ijtihad baru apakah tempat tersebut bisa dijadikan miqat atau tidak.
 
Para ulama sepakat bahwa miqat orang-orang yang tidak melalui salah satu yang telah ditetapkan Nabi saw, maka ditetapkan berdasarkan ijtihad yaitu tempat yang segaris lurus dengan miqat terdekat yang dilaluinya, atau kalau tidak mengetahui miqat terdekatnya maka ditetapkan dengan dua marhalah (80,4 km). Saudara bisa membaca kembali Suara Muhammadiyah bulan Zulqa’dah 1422 H / Januari 2002 M. Di sana juga ditulis beberapa pendapat, di antaranya Ibnu Qudamah berpendapat: “Barangsiapa perjalanannya tidak melalui miqat yang telah ditetapkan Nabi saw maka miqatnya adalah tempat segaris lurus dengan miqat terdekat (Ibnu Qudamah 1984, al-Mughni, III: 219).
 
Ibnu Humam mengatakan: “Barangsiapa yang berkendaraan laut atau darat yang tidak melalui salah satu miqat yang ditetapkan Nabi saw maka ia wajib berihram ketika berada di tempat yang berada segaris lurus dengan miqat terakhir ........... dan jika tidak mengetahuinya maka jaraknya adalah 2 marhalah dari Makkah (Ibnu Humam 1997, Fathul-Qadir, II : 426).
 
Mazhab Maliki berpendapat bahwa: “Penumpang kapal laut hendaknya berihram ketika mendarat di pelabuhan sebagaimana yang datang dari Afrika Utara atau Mesir ketika sampai Jedah”. Begitu juga Abdulah bin Mahmud, Ketua Dewan Syariah di Qatar mengatakan: “Sebaiknya jamaah haji berihram ketika pesawat terbang yang ditumpanginya sudah mendarat di Jedah”. (Yusuf al-Qaradhawi, 2003, 100 Tanya Jawab Seputar Haji, Umrah dan Kurban: 68).
 
Menurut perkiraan para ahli, jarak antara Bandara King Abdul Aziz dan Jedah adalah kurang lebih 2 marhalah. Maka para ulama menetapkan bahwa Bandara King Abdul Aziz dapat dijadikan sebagai miqat siapa saja yang transit di tempat itu karena tidak singgah di tempat-tempat yang telah ditentukan Nabi saw. Pendapat ini juga di dukung oleh Musthafa Ahmad az-Zarqa yang mengatakan bahwa bagi orang yang datang dengan pesawat dan tidak melalui miqat yang telah ditetapkan maka ihramnya dimulai dari pesawat itu mendarat yang kemudian akan dilanjutkan dengan perjalanan darat (Musthafa Ahmad az-Zarqa, 2002, al-Aqlu wa al-Fiqhu fi Fahmi al-Hadis an-Nabawi: 99).
Ada sebuah hadis yang memperkuat pendapat ini yaitu :
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: وَقَّتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَهلِ اْلمَدِيْنَةِ ذَا اْلحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّامِ اْلجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجدٍ قَرْنَ اْلمَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ اْليَمَنِ يَلَمْلَمَ، فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ لِمَنْ كَانَ يُرِيْدُ اْلحَجَّ وَاْلعُمْرَةَ، فَمَنْ كَانَ دُوْنَهُنَّ فَمُهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ وَكَذَاكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلّوْنَ مِنْهَا. [متفق عليه
 
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw menetapkan bagi penduduk Madinah adalah Zul-Hulaifah, bagi penduduk Syam adalah Juhfah, bagi penduduk Najd adalah Qarnul-Manazil, dan bagi penduduk Yaman adalah Yalamlam. Beliau bersabda: Miqat tersebut adalah miqat bagi penduduk yang telah disebutkan dan bagi bukan penduduk setempat yang melewatinya dan akan melaksanakan haji dan umrah. Maka orang-orang yang tidak melalui daerah atau miqat-miqat itu, ihramnya dimulai dari mana ia tiba sehingga penduduk Makkah pun berihram dari Makkah juga (khusus ihram haji)”. [Muttafaqun ’Alaihi]
 
Berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas di atas, dikaitkan dengan jamaah haji Indonesia gelombang II dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak melewati daerah ataupun miqat-miqat yang telah ditetapkan Nabi Muhammad saw tersebut, sehingga miqatnya dimulai dari tempat di mana ia tiba.
 
Dalam hadis lain riwayat al-Bukhari dari Ibnu Abbas juga disebutkan:
 
فَمَنْ كَانَ دُوْنَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأََ “
Maka barangsiapa yang tidak melalui daerah atau miqat-miqat tersebut maka miqatnya dari arah ia memulai ihram”
 
Oleh karena itu Bandara King Abdul Aziz dengan jarak kurang lebih 2 marhalah bisa dijadikan sebagai miqat. Pendapat ini bisa di rujuk juga pada keputusan MUI tertanggal 2 Maret 1980 dan Tanya Jawab Manasik Haji Departemen Agama Republik Indonesia.
 
Sejalan dengan argumen di atas, maka untuk penetapan Pelabuhan Udara King Abdul Aziz sebagai miqat makani bagi calon haji Indonesia gelombang II, dapat dikemukakan:
a. Kalimat dalam hadits لِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ adalah bagi orang yang datang dan mengakhiri perjalanannya untuk memulai haji dan umrah, maka bagi calon haji Indonesia gelombang II Pelabuhan Udara King Abdul Aziz adalah tempat terakhir perjalanan dari Indonesia, dan segera akan dilanjutkan dengan memulai ihram haji dan umrah.
 
b. Pelabuhan Udara King Abdul Aziz adalah tempat yang setentang dengan kota Makkah sebagai miqat yang terdekat, yakni berjarak kurang lebih 80,4 km.
 
c. Dengan prinsip jalbu at-taisir (menarik kemudahan) serta ‘adamul-haraj (menghilangkan kesukaran) maka Pelabuhan Udara King Abdul Aziz dapat dipandang sebagai tempat yang dapat memenuhi prinsip tersebut.
 
2. Mengambil miqat dan shalat sunah ihram di atas pesawat terbang. Para ulama banyak yang membolehkan mengambil miqat di atas pesawat terbang, begitu juga memakai pakaian ihram diperbolehkan ketika jamaah haji masih berada di Jakarta atau bandara yang lainnya bahkan di atas pesawat terbang, namun sebagai pertimbangan bila kita hendak berihram dari atas pesawat terbang mungkin saja akan terasa menyulitkan, misalnya dari segi menetapkan lokasi miqat yang pasti untuk dimulainya niat dan ihram. Juga ketika jamaah di pesawat penuh sesak bagaimanakah teknis berganti pakaiannya. Bagi laki-laki akan terasa berat terlebih orang-orang tua dengan berpakaian ihram sedangkan pesawat terbang ber-AC. Tidak semua orang bisa bertahan apalagi ibadah haji yang akan dilaksanakan menuntut kesehatan fisik yang prima.
 
Shalat sunah terkait dengan miqat yang telah ditentukan. Bagi jamaah haji Indonesia yang menetapkan miqatnya di Bandara King Abdul Aziz, maka shalat sunnahnya dilaksanakan di tempat tersebut. Dan bagi jamaah yang miqatnya di atas pesawat, maka shalatnya juga berada di atas pesawat dengan ketentuan dia dapat memastikan bahwa dirinya telah berada di atas Qarnul-Manazil atau yang setentang dengannya sebagaimana yang saudara tanyakan.
 
Adapun shalat dua rakaat sebelum ihram menurut kesepakatan ulama’ hukumnya sunah, dikerjakan sesudah mandi dan sebelum ihram. (Wahbah az-Zuhaili, 2006, Fiqh al-Islam wa Adillatuh). Berdasarkan hadis:
أَنَّهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِذِى الحُلَيْفَة رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَحْرَمَ. [رواه البخارى و مسلم
 
Artinya: “Bahwsanya Nabi saw shalat dua rakaat di Zul-Hulaifah kemudian beliau berihram.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
 
Dari hadis di atas dapat difahami bahwa Rasulullah saw shalat sunah di tempat memulai ihram atau miqat yaitu Zul-Hulaifah. Sebab beliau datang dari Madinah dan miqat bagi penduduk Madinah adalah Zul-Hulaifah.
Selain hadis di atas juga terdapat beberapa riwayat lain, yaitu:
 
عَنْ مُحَرَّشٍ الْكَعْبيِّ قَالَ دَخَلَ النَّبِيُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجِْعْرَانَةَ فَجَاءَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَرَكَعَ مَا شَاءَ الله ثُمَّ أَحْرَمَ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى راَحِلَتِهِ فَاسْتَقْبَلَ بَطْنَ سَرِفَ حَتَّى لَقِيَ طَرِيْقَ الْمَدِيْنَةِ فَأَصْبَحَ بِمَكَّةَ كَبَائِتٍ. [رواه أبو داود]
 
Artinya: “Diriwayatkan dari Muharrisy al-Ka’bi, ia berkata: Nabi sampai di kampung Ji’ranah kemudian masuk masjid lalu shalat sesuai yang dikehendaki oleh Allah kemudian berpakaian ihram lalu mengadakan perjalanan dengan tidak terlalu cepat atau lambat ke Batna Sarifa sehingga menemukan jalan ke Madinah. Lalu pada pagi harinya Nabi bersabda di Makah seperti layaknya orang yang mukim di Makah.” [HR. Abu Dawud]
 
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهَلَّ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُ أَحَدًا رَوَاهُ غَيْرَ عَبْدِ السَّلاَمِ بْنِ حَرْبٍ وَهُوَ الَّذِي يَسْتَحِبُّهُ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنْ يُحْرِمَ الرَّجُلُ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ. [رواه الترمذي
 
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi saw berihram setelah mengerjakan shalat.” Abu Isa berkata: Hadis ini adalah hasan gharib, kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya selain Abdussalam bin Harb, sedangkan ahlul ilmi menyukai seseorang yang berihram setelah mengerjakan shalat. [HR. at-Tirmidzi]
 
إِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْكَعُ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ النَّاقَةُ قَائِمَةً عِنْدَ مَسْجِدِ ذِي الْحُلَيْفَةِ أَهَلَّ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ. [رواه مسلم والنسائي
 
Artinya: “Sesungguhnya Abdullah bin Umar berkata: adalah Rasulullah saw shalat di Zul-Hulaifah dua rakaat kemudian ketika untanya tegak berdiri di samping masjid Zul-Hulaifah beliau memulai dengan kalimat tersebut.” [HR. Muslim dan an-Nasa’i]
 
Mengenai apakah ada dalil yang membolehkan shalat sunah ihram dikerjakan sebelum sampai miqat, maka menurut pendapat kami tidak ada contoh dari Rasulullah saw bahwa beliau mengerjakan shalat sunah ihram sebelum sampai miqat, dan yang paling jelas adalah Rasulullah saw shalat sunah dua rakaat ketika telah sampai di miqat seperti yang telah dinyatakan dari dalil-dalil di atas. Oleh karena itu shalat sunahnya dilakukan ketika sudah sampai dibandara saja apalagi mengingat bila kita shalat diatas pesawat terbang dengan kecepatan yang begitu tinggi tentunya kita juga tidak bisa shalat tepat diatas miqat yang telah ditentukan.
 
 
3. Bagaimana mendudukkan hadis riwayat Aisyah dengan hadis riwayat Ibnu Abbas Saudara mengatakan bahwa mengapa jamaah haji Indonesia tidak berihram dari Tan’im saja? Dan bagaimana kalau hadis riwayat Aisyah ditarjih dengan hadis yang menjadi dasar jamaah haji Indonesia gelombang II memulai ihram dari Bandara King Abdul Aziz?
Hadis riwayat Aisyah yang dimaksud adalah:
 
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَرْسَلَ عَائِشَةَ وَهِيَ بِمَكَّة َمَعَ أَخِيْهَا عَبْدِالرَّحْمَنِ إِلَى التَّنْعِيْمِ فَاعْتَمَرَتْ مَعَهُ مِنْهُ. [رواه البخاري و مسلم
 
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Aisyah, ketika ia berada di Makkah bersama saudaranya Abdurrahman ke Tan’im. Maka ia melakukan umrah bersama saudaranya dari Tan’im.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Berikut adalah hadis riwayat Ibnu Abbas yang dijadikan dasar tentang bolehnya Bandara King Abdul Aziz dijadikan miqat:
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: وَقَّتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَهلِ اْلمَدِيْنَةِ ذَا اْلحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّامِ اْلجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجدٍ قَرْنَ اْلمَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ اْليَمَنِ يَلَمْلَمَ، فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ لِمَنْ كَانَ يُرِيْدُ اْلحَجَّ وَاْلعُمْرَةَ، فَمَنْ كَانَ دُوْنَهُنَّ فَمُهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ وَكَذَاكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلّوْنَ مِنْهَا. [رواه البخاري ومسلم
 
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw menetapkan bagi penduduk Madinah adalah Zul-Hulaifah, bagi penduduk Syam adalah Juhfah, bagi penduduk Najd adalah Qarnul-Manazil, dan bagi penduduk Yaman adalah Yalamlam. Beliau bersabda: Miqat tersebut adalah miqat bagi penduduk yang telah disebutkan dan bagi bukan penduduk setempat yang melewatinya dan akan melaksanakan haji dan umrah. Maka orang-orang yang tidak melalui daerah atau miqat-miqat itu, ihramnya dimulai dari mana ia tiba sehingga penduduk Makkah pun berihram dari Makkah juga (khusus ihram haji).” [Muttafaqun ’Alaihi]
 
Kedua hadis tersebut sebenarnya tidak saling bertentangan. Dari hadis-hadis yang ada dalam kitab Syarah Muslim, bab Bentuk-bentuk Ihram dan Bolehnya Berhaji Ifrad, Tamathu’ dan Qiran, dapat diketahui bahwasanya Aisyah pada waktu itu sudah menetap di Makkah sehingga untuk melakukan umrah harus keluar ke tanah halal terdekat yaitu Tan’im atau Ji’ranah. Lain halnya dengan jamaah haji Indonesia gelombang II yang memang baru datang di Makkah dan tidak berstatus menetap, sehingga memulai ihram dari tempat di mana ia tiba.
 
Adapun yang paling dekat dengan tanah haram dalam hal ini adalah Bandara King Abdul Aziz sehingga lebih tepat menggunakan hadis riwayat Ibnu Abbas. Selain itu hadis riwayat Aisyah konteksnya adalah bagi orang yang melakukan Haji Ifrad, sedangkan jamaah haji Indonesia melakukan Haji Tamathu’. Proses istinbath hukum dengan metode tarjih bisa dilakukan ketika ada dua hadis yang saling bertentangan, dan sama martabatnya atau kekuatannya. Selain itu juga menetapkan hukum yang sama dalam satu waktu sehingga tidak bisa dikompromikan misalnya dengan membawanya kepada ’am dan khas, muthlaq dan muqayad, ataupun yang lain. Sementara itu antara kedua hadis di atas (hadis riwayat Aisyah dan Ibnu Abbas) masih dapat dikompromikan yaitu dengan pengertian bahwa hadis Aisyah adalah diperuntukkan bagi penduduk Makkah dan orang yang berdomisili di Makkah atau orang luar yang sudah menetap di Makkah, sedangkan untuk orang yang baru datang adalah tetap berhujah dengan menggunakan hadis Ibnu Abbas di atas.
 
Wallahu a’lam bishawab. (*putm)
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
 
untuk sumber aslinya silahkan klik di sini  

  ----------------------------------------------------- end ---------------------------------------------------------------

Apakah Benar Jamaah Haji yang mengambil Miqot diatas pesawat saat melintasi Qornul Manajil itu Tepat berada di garis sejajar dengan Miqot Qornul Manajil?

Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut berikut ini kami ketengahkan bahasan yang ditulis oleh Sdr Irfan Anshary tentang Miqot Makani Bagi Jamaah Haji Indonesia Gelombang II.

Berikut ulasannya:

SALAH SATU MASALAH manasik atau tata cara haji yang banyak diperbincangkan, bahkan diperdebatkan, adalah masalah miqat makani, yaitu tempat jemaah haji mulai berihram (memakai pakaian ihram dan tidak melakukan larangan ihram). Perbedaan pendapat muncul lantaran interpretasi yang beraneka ragam terhadap hadits dalam Shahih al-Bukhari, Volume ke-2, hadits No. 605, yang berbunyi sebagai berikut:

Dari Abdullah ibn Abbas r.a. yang berkata: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah menetapkan miqat (waqqata) Dzulhulaifah bagi warga Madinah, Juhfah bagi warga Syam, Qarnulmanazil bagi warga Najd, dan Yalamlam bagi warga Yaman. Tempat-tempat itu (hunna) berlaku bagi warga masing-masing tempat itu (lahunna) dan bagi yang datang ke tempat-tempat itu (wa li man ata `alaihinna) dari tempat-tempat lain (min ghairihinna), yang ingin berhaji dan berumrah. Dan orang yang berada di luar tempat-tempat itu (wa man kana duna dzalika) berihram dari mana saja dia muncul (min haitsu ansya’), sehingga warga Makkah berihram dari Makkah.”

Sesungguhnya empat lokasi yang disebutkan Nabi Muhammad s.a.w. itu, yaitu Dzulhulaifah, Juhfah, Qarnulmanazil dan Yalamlam, sama sekali tidak memiliki nilai historis yang perlu diistimewakan. Tempat-tempat itu pada zaman Nabi hanyalah merupakan terminal persinggahan terakhir bagi kafilah-kafilah dari berbagai jurusan sebelum masuk Makkah, baik untuk beribadah maupun untuk sekadar berdagang. Sangatlah wajar jika Nabi Muhammad s.a.w. menetapkan empat lokasi tersebut sebagai tempat persiapan berihram, sebab ada beberapa kegiatan pra-ihram yang perlu dilakukan, yaitu mandi, membersihkan badan, memakai wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram, dan shalat sunnah ihram. Di daerah gurun pasir yang langka air pada abad ketujuh, empat lokasi itulah yang ideal sebagai miqat makani.

Akan tetapi Nabi Muhammad s.a.w., baik dalam sabda maupun perbuatan beliau, tidaklah memutlakkan keempat lokasi itu. Dari hadits di atas jelas sekali bahwa calon haji yang tidak datang ke salah satu tempat tersebut boleh berihram dari mana saja dia muncul. Yang penting, syarat sahnya ihram harus dipenuhi, yaitu memasuki Tanah Haram dalam keadaan sudah berihram. Jika seseorang yang ingin berhaji atau berumrah menginjak Tanah Haram dengan belum berihram, maka dia harus keluar lagi ke salah satu tempat di luar Tanah Haram untuk memulai ihram.

Ketika pulang dari perang di Hunain pada bulan Syawwal 8 Hijri atau Februari 630 Masehi, Nabi Muhammad s.a.w. melakukan umrah dengan mengambil miqat atau tempat mulai berihram di Ji`ranah, tempat di luar Tanah Haram yang hanya 20 km dari Ka`bah. Nabi Muhammad s.a.w. tidak mengambil miqat di Qarnulmanazil, meskipun Hunain, daerah kaum Hawazin, berada di wilayah Najd!

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. mengerjakan haji pada bulan Dzulhijjah 10 Hijri atau Maret 632 Masehi, istri beliau Aisyah r.a. kebetulan sedang haid. Maka setelah Aisyah r.a. berhenti haid, Nabi Muhammad s.a.w. menyuruhnya untuk menunaikan umrah bersama-sama adiknya Abdurrahman ibn Abi Bakar dengan mulai berihram dari Tan`im, tempat di luar Tanah Haram yang paling dekat. Sekarang, perjalanan dari Tan`im ke Ka`bah hanya 10 menit dengan mengendarai mobil.

Setelah kota Kufah dan Basrah di Iraq menerima Islam pada tahun 12 Hijri atau 634 Masehi, pada mulanya penduduk kedua kota itu yang ingin berhaji atau berumrah mengambil Qarnulmanazil sebagai tempat miqat, sebab mereka dianalogikan sebagai warga Najd. Oleh karena mereka merasa repot dengan harus berbelok ke tenggara (waktu itu transportasi dan jalan raya tidak secanggih sekarang), mereka menghadap Khalifah Umar ibn Khattab r.a. untuk meminta alternatif tempat miqat. Sebagaimana diceritakan oleh Abdullah ibn Umar r.a., putra Khalifah sendiri, yang tercantum dalam Shahih al-Bukhari, mereka berkata: “Wahai Amirul-Mu’minin. Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah menentukan Qarn sebagai miqat warga Najd, tetapi tempat itu menyimpang dari rute jalan kami (jawrun `an thariqina), dan jika kami ingin ke Qarn hal itu menyulitkan bagi kami (syaqqa `alaina).” Maka Khalifah Umar r.a. yang cerdas itu memberikan solusi bijaksana: “Telitilah hadzwa-nya dari rute jalan kalian (fanzhuru hadzwaha min thariqikum).”

Istilah matematika hadzwa artinya titik-titik sepusat (concentric points) atau berjarak sama jika diukur dari lokasi tertentu, seperti titik-titik pada keliling lingkaran atau seperti kita dengan bayangan di depan cermin. Oleh karena Qarnulmanazil berjarak dua marhalah (dua hari perjalanan unta) dari Makkah, maka Khalifah Umar r.a. menetapkan suatu tempat pada rute perjalanan dari Iraq, yang juga berjarak dua marhalah dari Makkah, sebagai lokasi miqat makani. Tempat itu lalu populer dengan nama Dzatu Irq (“tempat miqat orang Iraq”).

Berdasarkan hadits-hadits serta data historis yang telah dibahas, kita dapat merumuskan jawaban terhadap masalah pokok kita: di manakah miqat makani jemaah haji Indonesia? Pertama, jika kita berkesempatan untuk mampu berada di Dzulhulaifah, Juhfah, Qarnulmanazil atau Yalamlam, tempat-tempat itulah miqat makani kita sesuai dengan hadits. Kedua, jika kita tidak mampu datang ke salah satu dari empat tempat tersebut (sebab paspor coklat jemaah haji Indonesia hanya berlaku untuk Makkah-Madinah-Jeddah), tempat mana saja boleh kita jadikan sebagai miqat makani, asalkan lokasinya di luar Tanah Haram dan menyediakan fasilitas untuk persiapan berihram.

Bagi jemaah haji Gelombang Pertama yang ke Madinah dahulu sebelum ke Makkah, miqat makani mereka sudah tentu Dzulhulaifah, tempat miqat Rasulullah s.a.w. ketika beliau menunaikan haji. Nama Dzulhulaifah tidak dipakai lagi, sebab tempat itu kini bernama Bi’r (Abyar) Ali, sebagaimana nama Sunda Kalapa dan Batavia (Betawi) sekarang berubah menjadi Jakarta. Para jemaah haji mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian ihram pada pondokan masing-masing di Madinah. Kendaraan akan mampir di Bi’r Ali (Dzulhulaifah) kira-kira setengah jam, agar jemaah haji menunaikan shalat sunnah ihram. Di Bi’r Ali, ketika kendaraan mulai bergerak ke arah Makkah, jemaah haji memulai umrah dengan mengucapkan “Labbaik Allahumma `Umrah.”

Bagi jemaah haji Gelombang Kedua yang langsung ke Makkah, miqat makani mereka yang paling ideal sampai saat ini adalah Bandar Udara Raja Abdul Aziz, yang populer dengan singkatan KAA Airport (King Abdul Aziz Airport). Di bandara megah ini tersedia hamparan karpet tempat istirahat yang luas, fasilitas mandi dengan air yang berlimpah, serta para petugas orang Indonesia yang siap membantu, sehingga para jemaah haji dengan leluasa mandi, memakai wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram, dan menunaikan shalat sunnah ihram. Kenyataannya, sebagian besar jemaah haji dari berbagai negara mulai berihram di KAA Airport. Sedikit sekali jemaah yang turun dari pesawat udara dalam keadaan berihram. Di KAA Airport, ketika kendaraan mulai bergerak ke arah Makkah yang hanya satu jam perjalanan, jemaah haji memulai umrah dengan mengucapkan “Labbaik Allahumma `Umrah.”

KAA Airport jelas berada di luar Tanah Haram, dan jalur penerbangan kita dari tanah air sama sekali tidak melewati Tanah Haram. Menurut ketentuan pemerintah Arab Saudi yang disahkan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization), badan PBB yang mengatur penerbangan sipil antarbangsa, setiap pesawat udara dari kawasan Asia dan Pasifik harus datang dari arah timur laut, melewati kota Dafinah (23 16’ N, 41 51’ E), lalu menurunkan ketinggian di atas kota Nasir (22 14’ N, 40 04’ E), dan mendarat di KAA Airport (21 41’ N, 39 10’ E). Bandara ini terletak di utara Jeddah (21 29’ N, 39 10’ E), dan cukup jauh dari Makkah (21 28’ N, 39 55’ E). Di sekitar garis Tropic of Cancer, 1 derajat North = 111 km (1’ = 1,85 km) dan 1 derajat East = 108 km (1’ = 1,80 km). Maka dengan eksak dapat kita hitung bahwa KAA Airport berjarak lurus 22 km di utara Jeddah dan berjarak lurus 84,5 km di barat laut Makkah.

Jalur penerbangan dari tanah air kita ke KAA Airport juga sama sekali tidak lewat di atas salah satu dari empat tempat miqat yang disebutkan dalam hadits. Dari empat tempat miqat tersebut, yang relatif paling dekat dengan jalur penerbangan adalah Qarnulmanazil (21 37’ N, 40 25’ E). Seperti nama Dzulhulaifah, nama Qarnulmanazil tidak dipakai lagi. Tempat itu kini bernama As-Sayl al-Kabir, dan ternyata sangat jauh dari jalur penerbangan. Garis lurus dari Qarnulmanazil ke jalur penerbangan membentuk sudut siku-siku tepat pada kota Nasir. Dengan demikian, jarak dari Qarnulmanazil ke jalur penerbangan (kota Nasir) secara eksak dapat kita hitung, yaitu 78,2 km, lebih jauh dari jarak lurus Qarnulmanazil ke Makkah yang cuma 56,5 km.

Bagaimanakah halnya pendapat yang mengatakan bahwa jemaah haji kita harus berpakaian ihram di tempat embarkasi di Indonesia, lalu mulai berihram di pesawat udara? Pendapat tersebut sah-sah saja dan tidak ada salahnya. Tapi apa gunanya kita menyiksa diri seperti itu dengan membiarkan tubuh kita kedinginan selama 10 jam di pesawat udara. Mereka yang memulai ihram dari pesawat udara pada umumnya berdasarkan hal-hal berikut: Pertama, mereka beranggapan mengambil miqat di Qarnulmanazil. Kedua, mereka ragu dan waswas kalau-kalau jalur penerbangan melewati batas Tanah Haram. Ketiga, mereka berpendapat bahwa KAA Airport tidak sah sebagai miqat makani sebab tidak tersebut dalam hadits. Keempat, mereka hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh para pembimbing karena memang masih awam dan baru belajar manasik ketika akan pergi haji.

Padahal, seperti telah kita bahas, pesawat udara kita tidak lewat di atas Qarnulmanazil serta sama sekali tidak melewati Tanah Haram. Memulai ihram dari pesawat udara tidaklah salah, tetapi janganlah menipu diri sendiri dengan berkhayal mengambil miqat di Qarnulmanazil, apalagi sambil menyalahkan atau menganggap tidak sah yang mengambil miqat di KAA Airport. Bandara yang baru dipakai tahun 1979 ini sudah tentu tidak ada dalam hadits, sebagaimana pesawat udara, awang-awang dan langit juga tidak pernah disebutkan dalam hadits untuk menjadi tempat miqat.

Ternyata mereka yang ingin memulai ihram di pesawat udara sering bingung mengenai kapan saat yang tepat untuk itu. Ada yang mengatakan kira-kira seperempat jam sebelum landing, ada yang mengatakan kira-kira 20 menit, atau kira-kira 25 menit, dan ada juga pendapat kira-kira 30 menit sebelum pesawat mendarat di KAA Airport. Semuanya kira-kira! Dengan kecepatan rata-rata (ground speed) pesawat udara 575 mil atau 920 km per jam, selisih waktu semenit saja dapat menyebabkan perbedaan lebih dari 15 km. Sudah tentu pelaksanaan ibadah haji dengan metode “kira-kira” tidaklah dapat dipertanggungjawabkan baik secara diniyah maupun secara ilmiah.

Ada yang mengatakan bahwa “lokasi Qarnulmanazil akan diumumkan oleh pilot pesawat”! Dari beberapa kali penerbangan ke tanah suci, baik umrah maupun haji, saya menyimpulkan bahwa pilot pesawat udara dan kru-krunya tidak tahu apa-apa mengenai lokasi Qarnulmanazil. Pada salah satu penerbangan, terdengar pengumuman bahwa pesawat berada di atas Qarnulmanazil dan para jemaah haji yang ingin memulai ihram segera bersiap-siap. Merasa penasaran saya bertanya bagaimana cara menentukan koordinat Qarnulmanazil dari udara. Mereka mengaku tidak tahu lokasi Qarnulmanazil sebab tidak ada dalam peta, dan hanya melaksanakan "instruksi pihak Garuda" agar mengumumkan hal itu 30 menit sebelum mendarat. Pada penerbangan yang lain, terdengar pengumuman bahwa pesawat berada di atas miqat makani kota Nasir. Ketika saya mengomentari bahwa tidak ada tempat miqat bernama Nasir, sang petugas mengatakan bahwa "menurut orang Depag" Nasir adalah nama baru Qarnulmanazil. Entah ‘orang Depag’ mana yang dia maksud. Padahal, seperti telah kita hitung, jarak antara Nasir dan Qarnulmanazil (yang nama barunya As-Sayl al-Kabir) adalah 78,2 km.

Saya pernah mengunjungi Qarnulmanazil (As-Sayl al-Kabir) ketika menunaikan umrah pada bulan Januari 1997. Niat saya adalah pergi ke Ta’if, berangkat naik taksi dari Makkah melalui Aziziyah. Ketika pulang dari Ta’if, supir taksi menawari saya agar kembali ke Makkah melalui jalur utara, tentu dengan tambahan riyal. Katanya, kita dapat melihat miqat di Sayl dan melihat istad (stadion olahraga) di Ji`ranah. Mendengar nama Sayl, saya langsung setuju sambil diam-diam menghitung sisa riyal di saku. Ternyata As-Sayl al-Kabir itu memang lokasi miqat resmi seperti Dzulhulaifah (Bi’r Ali). Di sana terdapat tugu miqat, mesjid megah tempat persiapan berihram, dan lapangan parkir yang luas.

Sekitar satu jam sebelum mencapai Sayl dari arah timur, ada lapangan terbang domestik. Menurut supir taksi, daerah itu bernama Wadi Mahram. Saya langsung berharap sambil berdoa, semoga pemerintah Arab Saudi segera meningkatkan status lapangan terbang di Wadi Mahram menjadi bandara internasional, setidak-tidaknya bandara khusus haji. Dengan demikian, jemaah haji dari arah timur yang ingin langsung ke Makkah dapat mengambil miqat makani di Qarnulmanazil sesuai dengan bunyi hadits. Tidak seperti sekarang, banyak yang mengaku berihram dari Qarnulmanazil, tetapi tidak tahu di mana dan belum pernah ke sana!

Dari seluruh uraian di atas, kita mengharapkan agar para jemaah haji Indonesia mantap dan tidak ragu-ragu dalam menetapkan miqat makani (tempat memulai ihram), yaitu Dzulhulaifah (Bi’r Ali) bagi yang ke Madinah dahulu (Gelombang Pertama), serta Bandar Udara Raja Abdul Aziz (KAA Airport) bagi yang langsung ke Makkah (Gelombang Kedua).

 

Wallahu a`lam bi sh-shawab.***

Jika kita ingin mengambil miqat di Qarnulmanazil (As-Sayl al-Kabir), kita harus memakai paspor hijau atau biru, dan naik pesawat udara yang rutenya Jakarta-Riyadh, bukan Jakarta-Jeddah, seperti pernah saya alami bersama beberapa teman pada bulan Juli 2002. Setelah mendarat di Bandara Internasional Raja Khalid, Riyadh, kita pergi ke terminal bis SAPTCO (Saudi Arabian Public Transportation Company, “DAMRI”-nya Arab Saudi) yang tidak jauh dari bandara. Kita naik bis Riyadh-Jeddah yang setiap 30 menit berangkat, tetapi jangan keterusan sampai Jeddah, melainkan turun di Ta’if atau di Halban (sebelum Ta’if dari arah timur). Dari Ta’if atau dari Halban kita menyewa taksi ke Makkah lewat Sayl. Jangan naik bis, sebab bis Ta’if-Makkah dan Halban-Makkah semuanya lewat Aziziyah. Di kompleks miqat As-Sayl al-Kabir, kita berwudu’ (atau mandi kalau mau), mengenakan pakaian ihram (di sana ada toko yang menjual pakaian ihram), menunaikan shalat sunnah ihram, mengucapkan “Labbaik Allahumma `Umrah”, lalu berangkat ke Makkah. Nah, ini baru asli Qarnulmanazil, bukan ‘Qarnulmanazil khayal’ di awang-awang yang tidak jelas koordinatnya (Sumber: http://irfananshory.blogspot.com)  




"Sampaikanlah (bagikan) ilmu itu walau satu ayat". Semoga menjadi amal jariyah dan bisa mengantarkan Anda ke Tanah Suci. Rasulullah SAW Bersabda "Man dalla 'ala khairin falahu mitslu ajri fa'alaihi" Artinya: "Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan kepada seseorang, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang ditunjukkan itu" (HR. Muslim)

Jika Anda merasa bahwa informasi di atas bermanfaat buat Anda, ada baiknya Anda luangkan sedikit waktu untuk memberikan saran, kritik, usulan, komentar atau Anda ingin tanya jawab pada tulisan tersebut, kami persilahkan, guna perbaikan website ini. Terima kasih..

Komentar via akun Facebook :

0 Komentar via Website :